JRÉNG! DAN JADILAH ORANG BESAR ALA GONTOR

Jréng! Dan Jadilah Orang Besar Ala Gontor; Saiful Amien

jreng2
Bertiga. TPQ Dewasa di Mushola at-Taubat (dok.pribadi)

Sudah sepekan. Dia tidak hadir di mushola. Padahal, sebelum adzan Magrib biasanya ia sudah tiba. Ditemani sepeda mini milik cucunya. Atau motor butut, Suzuki Bravo miliknya. Saya jadi bertanya-tanya. Khawatirku: ia sakit lagi.

Continue reading “JRÉNG! DAN JADILAH ORANG BESAR ALA GONTOR”

GONTOR DAN KADO LEBARAN

Gontor dan Kado Lebaran; Saiful Amien

kado lebaran 1
Pembukaan Tahun Ajaran Baru dan Ujian Masuk PM. Gontor 1440H (dok.pribadi)

Anak lanangku tiba-tiba mutung. Mogok. Tidak mau balik ke Gontor. Padahal sudah tiga tahun mondok di sana. Padahal tahun ajaran baru ini, naik positif ke kelas empat.

Continue reading “GONTOR DAN KADO LEBARAN”

NAPAK TILAS

Napak Tilas; Saiful Amien

naaktilas 1
Masjid Jami’ Tuban (dok. pribadi)

Entahlah. Dari mana ide ini muncul. Niatku hanya ngejar jama’ah Isya. Hanya itu. Mumpung isteri dan anak-anakku belanja di Bravo. Daripada nunggu di mobil. Mending cari musholah atau masjid. “Ma, aku isya’an sik yo” kukirim pesan via Whatsapp. Dan cabut.

Continue reading “NAPAK TILAS”

GONTOR DAN MASA-MASA TERINDAH

Gontor dan Masa-masa Terindah; Saiful Amien (Bloger)

semua yang terindah kan hadir pada waktunya
sumber: kompasiana.com

Abana KH. Hasan Abdullah Sahal pernah dawuh pada saat khutbatul Arsy: “Seindah-indah masa adalah masa menuntut ilmu, dan bersyukurlah karena kamu menuntut ilmu di Gontor”.

Continue reading “GONTOR DAN MASA-MASA TERINDAH”

SEPATU BUTUT ANAKKU DAN TITAH KESEDERHANAAN ALA GONTOR

Sepatu Butut Anakku dan Titah Kesederhanaan Ala Gontor; Abdul Matin Bin Salman (Wali Santri Gontor & Warek I IAIN Surakarta)

kesederhaan bukanlah kemiskinan
lukisan sepatu butut

Sejak awal, saya tidak terlalu menenkankan anakku diterima sebagai santri Gontor. Prinsip saya, seusai pendidikan dasar, anak-anak saya harus melanjutkan ke pesantren. Pesantren apapun itu. Karena saya yakin, tidak ada pesantren yang mendidik santrinya dengan cara yang tidak benar. Tidak mudah memang, menjadi orangtua di zaman now. Banyak kendala waktu mendidik anak secara privat. Terlebih di zaman ketika teknologi telah merenggut banyak kesempatan kita untuk mendidik mereka secara langsung. Bahkan, sekalipun anak-anak bersama orangtua 24 jam, seringkali minim “kebersamaan” di antara mereka. Fisik memang terlihat dekat, tetapi hati dan pikiran saling berjauhan. Kekhawatiran itu semakin memuncak, ketika melihat fenomena kehidupan anak-anak seperti saat ini.

Continue reading “SEPATU BUTUT ANAKKU DAN TITAH KESEDERHANAAN ALA GONTOR”