GONTOR DAN KADO LEBARAN

Gontor dan Kado Lebaran; Saiful Amien

kado lebaran 1
Pembukaan Tahun Ajaran Baru dan Ujian Masuk PM. Gontor 1440H (dok.pribadi)

Anak lanangku tiba-tiba mutung. Mogok. Tidak mau balik ke Gontor. Padahal sudah tiga tahun mondok di sana. Padahal tahun ajaran baru ini, naik positif ke kelas empat.

Ini benar-benar menjadi “kado” lebaran yang istimewa bagi kami. Ortunya. Sangat menguras emosi dan pikiran. Rasionalitas pilihan kutawarkan. Tidak menggoyahkan sedikitpun keputusannya. Hanya ketukan pada hatinya. Melalui tetesan air mata ibunya. Menggerakkannya kembali masuk pondok. Di detik-detik terakhir daftar ulang.

Walaupun tetap ia isyaratkan sikap terpaksa dan tebarkan ancaman “pindah pondok”. Ala kulli hal… kesyukuran tetap kupanjatkan. Kuserahkan sepenuhnya kepada Pemilik Tunggal kehidupan. Dzat Maha Pembolak-balik hati.

Bisa jadi. “Kado” ini juga merupakan teguran dari-Nya bagi kami. Agar selalu sadar. Bahwa ia terlahir dari kami, tetapi Dia-lah Sang Pemilik Sejati. Sang Pemelihara dan Pendidik Hakiki. Maka sepantasnya, kami dawamkan istighfar, do’a dan dzikir. Seraya bermohon. Agar ke depan. Anak lanangku diajari oleh-Nya tentang kekuatan: istiqamah, sabar, syukur dan ikhlas. Bagiku, itulah modal utama kehidupan. Semoga. Allahumma amin.

Isyarat Itu

kado lebaran 2
Menara Gontor: Kuat. Istiqamah. Sabar dan Syukur (dok.pribadi)

Sejak awal liburan, ia mengisyaratkan keinginannya tersebut. Tidak vulgar. Namun bisa dibaca. Kami, bapak-ibunya, tidak menanggapi. Tepatnya, dianggap candaan saja. Setiap ia isyaratkan itu, kami guyoni. Begitu. Selalu. Selama 50 hari libur.

Ternyata ia serius. Tidak main-main. Serasa menyimpan bom. Dan itu meledak saat injury time. Hari terakhir kami mengantarnya balik ke pesantren. Ia mengeras seperti besi. Tidak mau! Maunya: pindah pondok. Ke pesantren kecil. Yang tidak dikenal. Yang tidak banyak aturan. Yang disiplinnya tidak seketat Gontor.

Karakteristik

Anak lanangku ini memang relatif pendiam. Tepatnya, tidak mudah berteman. Enam tahun di SD. Hanya satu orang sahabatnya. Yang benar-benar ia bisa bermain dengannya. Ia cenderung enggan mengkomunikasikan perasaan dan pikirannya kepada orang lain.

Apalagi kepada saya, bapaknya. Setiap ia membaca di kamar. Atau sekadar bermain HP. Kudekati untuk duduk bersamanya. Ia menjauh dan pindah kamar. Kalau ia nelpon, lebih ke HP ibunya. Ia bisa berbicara tentang apa yang diminta kepada ibunya. Ketika HP diberikan kepadaku, seketika ia diam. Seakan kehilangan kata.

Saya masih menganggap wajar. Toh, seringkali begitu. Antara anak lelaki dengan bapaknya: kurang komunikatif. Persis seperti aku dengan ayahku. Dulu. Hehehehe.

Pendidikan untuk Hidup

kado lebaran 3
Di Gontor, anak presiden pun kalau harus naik truk, ya naik. Tanpa pandang bulu (dok.pribadi)

Itulah. Di antaranya. Alasan aku pilihkan buatnya pendidikan gontory. Agar ia belajar hidup dan kehidupan. Agar ia mengerti: hidup itu tidak sendirian. Agar ia memahami: hidup itu pilihan dan perjuangan. Agar ia kuasai: hidup itu adalah siasat mengkompromikan antara cinta dan ketaatan; antara kepedihan dan kegembiaraan; antara kesabaran dan kesyukuran; antara kehilangan dan keihklasan; antara kedaulatan dan kemanfaatan; dan.. dan..

Lebih jauh lagi. Agar ia memaknai sulitnya hidup berjamaah. Lalu belajar: simpati dan empati. Agar ia mengalami beratnya dilecehkan. Dibully. Dijatuhkan. Lalu ia belajar tidak putus asa. Tidak cengeng. Tidak pengecut. Tetapi justru Bangkit. Menjadi kuat. Tanpa mahir melaknat dan menyikat.

Lebih dari itu. Agar ia terbiasa dengan pilihan karakter mulia. Memenej dan mendisiplinkan sendiri dirinya. Mengenali diri dan potensinya. Mengendalikan egonya. Menahan amarahnya. Mencerdaskan ranah emosional dan spiritualnya.

Kunci, bukan Lemari

Bagiku, Gontor punya milliu dan perangkat paedagogis untuk itu. Dan siap memberikannya sebagai kunci. Bukan lemari. Sebagai kail. Bukan ikan.

Untuk Urusan ranah kognitif (akademis). Bagiku bukanlah yang terpenting. Ia akan berkembang nanti. Ketika di perguruan tinggi. Untuk saat ini, kunci pembuka brangkas ilmu dan bagaimana (etos) penggunaannya, itulah yang utama. Dan itu pada pembentukan karakter.

 Kado Terbaik, InsyaAllah

kado lebaran 4
Di tepi lapangan Gontor, delman dan kudanya tetap setia melayani dari dulu hingga kini (dok.pribadi)

Dari itu, ketika anakku mutung seperti ini. Adalah ujian. Bagiku dan baginya. Adu kuat-kuatan. Antara ego anak yang pasti selalu cenderung pada yang enak (padahal belum tentu baik). Dengan kemauan baik orangtua bagi masa depan anak (yang saat ini belum tentu enak). Tetapi kuyakin, ketika dewasa nanti, ia akan mensyukurinya sebagai process of learning yang amat berarti dalam hidupnya. Walaupun saat ini, mungkin ia melaluinya dengan amat terpaksa. Penuh derai air mata.

Masa depan memang tidak hanya berpijak dari Gontor. Bisa dari latar pendidikan dasar menengah manapun. Di manapun. Tetapi tentunya aku tetap boleh berharap. Semoga anak-anakku di Gontor bisa husnul khatimah. Dan saat mereka dewasa nanti. Saat mereka mampu memaknai. Saat mereka, mungkin, membaca tulisan bapaknya ini. Mereka akan menilai bahwa pilihan orang tuanya saat ini adalah kado terbaik buat merajut kehidupan mereka. InsyaAllah.[]

Starting penulisan di Gontor, dan finishing di Joyosuko Metro-Malang. 20 Juni 2019.

Terkait:

Sepatu Butut Anakku dan Titah Kesederhanaan Ala GontorAbdul Matin Bin Salman (Wali Santri Gontor & Warek I IAIN Surakarta)

Gontor dan Masa-masa TerindahSaiful Amien

12 thoughts on “GONTOR DAN KADO LEBARAN”

  1. Benar Mas Fauzy Hawi. Masa anak-anak memang yg dipikirkan yang enak-enak hehehe. Terima kasih telah sudi mampir di blog ini… semoga kita saling menguatkan, amin..

  2. Sangat menginspirasi tulisannya, mudah dicerna dan lugas.

    Kalau mondok biarpun udah lama, biasanya kalau lagi libur emang sering gitu sih.

    Kebanyakan anak muda belum merasa khawatir pada masa depannya karena masih tahap perkembangan dan mengalami banyak proses

  3. Terima kasih pak Wazan, atas afirmasi positifnya. Tiada yang utama yang bisa kita lakukan setelah berikhtiyar adalah berdoa dan saling mendoakan. Sekali lagi terima kasih..

  4. Injih, bu Iba. Setiap orang tua punya alasan dalam menyekolahkan atau memondokkan anaknya. Dan bagi kita, pembentukan karakter adalah yg utama. Terima kasih bu, semoga Allah meridhoi setiap ikhtiyar kita, amin..

  5. Sama Pak Amin, alasan kami seksku orsng tua untuknemondokkan ananda juga sama. Supaya bisa berkehidupan bernasyarakat. Karakter ananda juga hampir sama dengan putra Pak Amin, .kurang banyak tenan saat di pendidikan dasar. Utk knowlledge ,benar kuncinya bisa dibuka next. Yang teroenting untuk saat ini adakah character building. Supaya jekak memjadi insan yang mandiri dan bertsnggung hawab serta bermental baja. Amiin, semiga Allah meridhoi pilihan kita.

  6. injih Bunda Tasya, pengalaman yang kemungkinannya akan dialami oleh banyak wali santri yg anaknya mondok. Luar biasa. Mengejutkan. Tidak bisa diduga. Dan sungguh tidak mudah untuk mempertemukan cara berpikir anak kita dengan cara berpikir kita sebagai ortunya. Namun, di sinilah keindahan dinamikanya… Hanya Allah, Sang pembolak-balik hati, yg pantas kita serahkan segala ikhtiyar kita.. Terima kasih, Bun.

  7. Injih mbak Novie, kadang kita lebih terpengaruh oleh perasaan (terhadap kondisi faktual) sesaat tanpa memikirkan kebaikan (yg masih abstrak) yang akan didapat ke depan.. terima kasih mbak..

  8. Saya jadi ingat, naik kelas 4 di PP Al Mawaddah Coper juga mengalaminya pak. Pokok pindah pondok, ayah saya nanggapinya selow aja 😀. Akhirnya tetep kembali ke Coper dan selesai 6 tahun.

    Semoga ananda kerasan dan bisa selesaikan pendidikan di Gontor dengan lancar dan menjadi otang yg bermanfaat dunia akhirat njih pak, bu…

  9. Anak wedokku juga sempat mutung liburan ini. Liburan panjang pertamanya sebagai santri Gontor. Dia kaget karena ternyata dia sudah “berbeda” dengan teman2 SDnya dulu.

    Teman2 SDnya masih sibuk kegiatan akademik saat Ramadhan, dia sudah free. Karena hal ini pula tak ada satupun temannya yang “menyambutnya” saat pulang. Anakku merasa kesepian dan kami terlambat menyadari hal itu. Dia berontak dan kamipun kaget.

    Menjelang akhir Ramadhan baru teman2nya “menyambutnya” dan dia tidak bisa diam di rumah. Merasa happy, tidak sendirian, melepas kangen akhirnya kebablasan. Temannya bilang anakku tidak betah di rumah tapi ga mau balik ke pondok.

    Sebagai orang tua kami hanya jawab guyon ya udah besok balik ke pondok, beresin barang2 terus pulang. Sampe Jakarta, cari sekolah sendiri, daftar sendiri, bayar sendiri.

    Kami kaget dan mencoba mengerti perasaannya. Tidak bisa keras sama dia.
    Silaturahim dengan guru2 sekolahnya dulu dan keluarga besar rupanya bisa menjadi salah satu obat. Setiap kesempatan semua orang selalu membangga-banggakan anakku sekolah di Gontor. Bahkan menyemangati.

    Rupanya ini ujian Ramadhan kami. Akhirnya 8 Syawal dia kami antar balik ke GP3. Dan 10 Syawal malam kami pamit dan melepas dia kembali ke asramanya. Alhamdulillah anakku berjalan mantap tanpa menoleh ke belakang, malah saya ibunya yang nangis ala India.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *